jump to navigation

Nglilir-lah Juni 24, 2008

Posted by prabu in Budaya, Hikmah, mp3 islam.
Tags: , , , , ,
1 comment so far

Album Menyorong Rembulan oleh Cak Nun


Mendengar Cak Nun dan Kyai Kanjeng melantunkan tembang ini, hati ini merasa pedih
Betapa selama ini kita masih dinina bobokan oleh bayang kemuliaan yang seolah selalu melingkupi diri kita
Betapa kita merasa sebagai orang yang paling benar dan akan selalu memperoleh kasih Allah
Betapa kesombongan dan kemunafikan selalu berada di depan atau di atas menindih dan meniadakan nurani diri yang tiada berdaya
Betapa duniawi telah merasuki seluruh sendi-sendi kehidupan yang kita jalani
Betapa ukhrawi hanyalah sebagai simbol dan hiasan yang indah dilantunkan hanya di rumah ibadah
Betapa kita hanyalah sosok yang hina bergelimang dalam kegelapan
Ahh .. sungguh menusuk hati

Ilir-ilir
Nglilir-lah
Bangun-lah dari tidurmu yang panjang
Sadarlah bahwa tidurmu terlalu panjang sementara dialam nyata banyak yang harus kita benahi
Awali dari dirimu sendiri untuk mempercantik diri dengan kasih sayang Allah yang tiada henti menyinari nurani-nurani jiwa

Astaghfirullah … sadarkah kita bahwa selama ini kita menjauhkan diri dari-Nya
Nglilir-lah … bangun-lah sebelum terlambat

Ilir-ilir, Ilir-ilir, tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar
Cah angon, cah angon, penekna blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekna kanggo mbasuh dodot ira
Dodot ira, dodot ira kumitir bedah ing pingggir
Dondomana, jlumatana, kanggo seba mengko sore
Mumpung gedhe rembulane, mumpun jembar kalangane
Ya suraka, surak hiya

Bangunlah, bangunlah, tanamannya telah bersemi
Bagaikan warna hijau yang menyejukkan, bagaikan sepasang pengantin baru
Anak gembala, anak gembala, tolong panjatkan pohon belimbing itu
Biarpun licin, tetaplah memanjatnya, untuk mencuci kain dodot mu
Kain dodotmu, kain dodotmu, telah rusak dan robek
Jahitlah, tisiklah untuk menghadap (Gustimu) nanti sore
Selagi rembulan masih purnama, selagi tempat masih luas dan lapang
Ya, bersoraklah, berteriak-lah IYA

(more…)

Crat Crit Crut Cret Crot Juni 10, 2008

Posted by prabu in Budaya.
Tags: ,
add a comment

Dari bunyi yang keluar, dengan apa suara itu terjadi, dan bagaimana rasa dan nuansa yang ditimbulkan, maka rasa bahasa akan muncul dalam ungkapan yang sepertinya sama tapi bisa berbeda. Misalnya membedakan cara air keluar dengan CRAT, CRIT, CRUT, CRET, CROT. Ucapan CRET ada dua macam yaitu E seperti pada kata “benang” (bahasa sunda ditulis eu) dan E seperti pada ucapan “bebas”.

Penafsiran, makna dan rasapun adakalanya tidak sama antara satu orang dengan lainnya atau satu daerah dengan daerah lainnya. Hanya beda huruf vocal maka makna dan rasa yang ditimbulkan bisa berbeda, bahkan bisa berbeda jauh. Mungkin di kamus resmi ungkapan-ungkapan itu nggak ada.

Kalau menurut “rasa” saya ungkapan kata-kata di atas bisa dibedakan begini:

CRAT, sesuai dengan bunyinya maka pancaran air yang terjadi cenderung melambung jauh melintasi ruang yang cukup jauh. Ukuran jauh disini tergantung ruang dan waktu. Pada lapangan yang luas tentu berbeda dengan dalam ruangan yang sempit. Bila selang diarahkan ke atas dan kemudian keran dibuka, saat air memancar keatas dan turun ke bawah lagi dengan jarak yang cukup jauh, maka bisa kita berseru : “Banyu ning kene banter banget. Lha wong pas aku mbuka kran … banyune langsung mak craat, muncrat deres lan adoh !”

CRIT. Dari bunyi yang ditimbulkan maka jelas bahwa air yang dikeluarkan sedikit dibandingkan dengan sumber air yang ada.

(more…)

Suara emas Kiki Manado April 16, 2008

Posted by prabu in Budaya.
Tags: , , , ,
71 comments

Idola Cilik, demikian nama acara di salah satu stasiun teve swasta.

Sebenarnya saya kurang setuju dengan program-program serupa itu yang menawarkan popularitas secara cepat dan instan. Makanya tidak heran begitu berjubel orang antri untuk mengadu nasib. Siapa orang yang nggak mau terkenal dalam waktu yang cepat ?

Dalam Idola Cilik akan semakin kentara manakala popularitas si anak juga merembet pada orangtuanya. Dan kemudian popularitas berujung kepada kebanggaan dan mengalirnya uang. Segala daya upaya berupa waktu, usaha dan uang dikerahkan untuk mencapai tingkat itu. Dan beberapa berhasil dengan baik kalau diimbangi dengan potensi dan nasib baik. Namun pastinya lebih banyak yang gagal dan menderita kerugian. Namanya juga usaha, berhasil dan gagal adalah konsekwensinya.

Lepas dari itu, saya sungguh terbuai oleh salah satu peserta Idola Cilik. Kiki namanya. Manado asalnya. Suaranya begitu bening dan enak untuk dinikmati. Memang dalam idola cilik justru kebanyakan lagu yang dinyanyikan adalah lagu orang “dewasa”. Asal masih “nyambung” dengan dunia anak sih sebenarnya nggak masalah. Cuma kalau seorang anak dipaksa nyanyi lagu dewasa dan kurang menjiwainya, kasihan anaknya (dan pemirsanya juga).

Mau dengar suara emas Kiki ?

(more…)

Duet Dalang Maret 28, 2008

Posted by prabu in Budaya, MP3 Jawa.
Tags: , , , , , , , , ,
4 comments

Pernah menyaksikan pagelaran wayang dengan lebih dari satu dalang ? Di sebuah teve swasta dan teve daerah saya pernah menyaksikan 3 dalang sekaligus. Tapi tentu saja masing-masing ndalang dengan satu layar, sehingga 3 dalang membutuhkan tiga layar dan tentu saja akhirnya menghabiskan tempat yang cukup luas.

Pengaturan adegannyapun silih berganti antara dalang satu dengan yang lainnya. Pada adegan perang, mereka bertiga memainkannya secara bergantian dan berurutan sehingga kesannya arena berperang menjadi sangat luas dan ketrampilan sang tokoh yang sedang berperang menjadi bermacam-macam tergantung dari sabetan masing-masing dalang.

Dalam adegan goro-goro akhirnya mereka dapat berkolaborasi dengan masing-masing memegang tokoh yang berbeda. Ibaratkan saja para punokawan saling ngobrol dari rumah yang berbeda he he he ….

Pertunjukan jadi “gayeng” tetapi akhirnya cenderung tidak terlalu serius. Cenderung lebih menekankan pada hiburan semata. Dan yang menontonpun sepertinya terhibur karena menyaksikan tiga dalang sekaligus dalam satu pertunjukan yang mempertunjukan kemahiran masing-masing.

Dan yang ini agak lain karena menduetkan dua dalang dengan latarbelakang yang berbeda. Satu dari tanah Jawa dan lainnya dari tatar Sunda. Satu dalang wayang kulit dan lainnya wayang golek. Dalang satu adalah si dalang setan Manteb Sudarsono dan teman duetnya adalah Asep Sunandar Sunarya.

(more…)

Mari Basiyo saiki Kartolo Maret 28, 2008

Posted by prabu in Budaya, MP3 Jawa.
Tags: , , , , , , , , , ,
11 comments

Meskipun bukan orang Jawa Timur, saya suka juga dengan gaya lawakan Jawatimuran terutama dalam ludruk. Biasanya diawali dengan jula jali yang ditembangkan oleh seorang laki-laki sambil menari sebagai pengantar. Didalamnya terdapat “parikan” (apa ya namanya yang tepat ?) yang disampaikan sesuai dengan cerita atau bahkan nggak ada kaitannya dengan cerita karena hanya sekedar menyinggung sana-sini atau sekedar bahan lawakan.

Di kantor dan di sekolah dulu-pun sering bergaul dengan orang-orang Jawa Timur yang masih medok logatnya. Hingga kadang-kadang sayapun jadi terbawa sampai sekarang. Karena seringnya mengucapkan kata “mari” khas Jawatimuran (artinya sudah), saya terkadang lupa bahwa untuk daerah Jawa tengah kata tersebut bermakna sembuh he he he …..

Ketika berkumpul dengan keluargapun (biasanya pada saat lebaran), logat Jawatimuran sebagian mewarnai reuni keluarga saya. Satu kakak sudah tinggal lama di Surabaya dan satunya lagi di Malang. Sampai sekarang kedua kakak itu berdomisili di sana. Jangan tanya anak-anak mereka (keponakan saya), logatnya medok banget.

Dan sungguh ramai bila berkumpul para cucu-cucu suwargi Bapak Ibu di Klaten. Meskipun bahasa penghubungnya seringnya menggunakan bahasa Indonesia maka beraneka dialek berbaur. Dialek Yogya Solo, Jawatimuran dan Sunda. Masak bahasa Indonesia pake mah, rek, je …. he he he ….

Berikut ada Ludruk Kartolo dengan dua lakon yaitu “Dalang Gersang” dan “Juragan Roti Sepet”

(more…)

Istiqomah dan berjamaah Maret 19, 2008

Posted by prabu in Budaya.
Tags: , , ,
add a comment

Banjir di mana-mana. Jalan rusak di mana-mana. Korupsi dimana-mana. Lho kok ngomong korupsi lagi ? He he he …

Habis setiap buka koran pagi, berita utamanya nggak jauh dari masalah korupsi di berbagai daerah dan di berbagai wilayah. Katanya, di Indonesia nggak ada yang konsisten atau istiqomah dimanapun dan dalam kegiatan apapun kecuali korupsi. Bahkan tidak hanya dilakukan secara istiqomah melainkan juga berjamaah he he he ….. Kalau dalam kegiatan ibadah hal itu tentu sangat diharapkan, tapi kalau berkaitan dengan korupsi ?

Tapi akhir-akhir ini ada angin segar yang bertiup di wilayah Jawa Barat. Pak Kapolda baru “berani” menantang para koruptor termasuk yang memperoleh beking dari orang kuat. Internal Polda dibersihkan dulu baru kemudian eksternal. Beberapa peraturan terutama yang menyangkut dengan pelayanan kepada masyarakat seperti pembuatan dan perpanjangan SIM, pembayaran STNK, peraturan tilang, keamanan masyarakat, sepertinya dikembalikan ke prosedur yang berlaku.

Tentu banyak kendala dan banyak yang meretensi kemapanan selama ini. Yang menentang pasti adalah orang yang menikmati di tengah carut marut pelayanan polisi kepada masyarakat. Tadi pagi saya baca di koran lokal bahwa Polres Ciamis telah bergerak dengan upaya untuk memberantas pungli di jalan melalui aksi penghapusan logo, nam atau identitas perusahaan, organisasi atau jenis apapun yang biasa memungut pungli di jalan.

Mudah-mudahan istiqomah dan berjamaah aksi ini.

Salut buat Pak Kapolda Jabar. Masyarakat pasti mendukung bila benar-benar bertujuan untuk mebuat sistem berjalan dengan baik dan benar.

Silih asah, asuh, asih dan pilgub Februari 28, 2008

Posted by prabu in Budaya.
Tags: , , , , ,
1 comment so far

Silih asah, silih asuh, silih asih. Begitu ceunah salah satu budaya Sunda warisan leluhur.

Dan ketika saya baca Tribun Jabar hari ini, di halaman satu bagian bawah kata-kata itu tertulis di sisi gambar Danny Setiawan. Lengkapnya begini :

Rempug jukung sauyunan
Paheuyeuk leungeun jeung hate
Silih asah, asih, asuh
Jauh tina pacogregan

Nggak tahu dalam rangka apa Pak Danny ada disana karena hanya sekedar gambar beliau yang melambaikan tangan dan tercantum disitu kata “Gubernur Jawa Barat”. Yang jelas bukan dalam rangka kampanye untuk bulan April nanti, kan ???

Dan gambarnya beliau masih ada lagi di halaman dua belas belakang. Tidak sebesar di halaman depan, tapi dengan gambar yang sama Cuma dengan kata-kata yang berbeda :

Sauyunan
Satu langkah
Satu hati
Untuk JABAR SATU

Cuma ini jelas peruntukannya yaitu dalam rangka promo festival marching band Gubernur Jabar 2008.

Nggak usah diperdebatkan promo tersebut apakah bersifat kampanye atau bukan, karena nomor urut Pak Danny (DAI) untuk pemilihan gubernur nanti adalah nomor SATU. Suatu kebetulan saja kali ya ….. he he he …

Kembali ke Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh.

Katanya ungkapan itu bukan berasal dari masa kini melainkan dari masa lampau sunda. Awalnya adalah tritangtu yang merupakan kesatuan dari tiga kampung utama Baduy yaitu Cikeusik, Cikertawana dan Cibeo.

Silih asah, apa maksudnya? Artinya saling mengasah, saling mempertajam agar lebih berdaya guna dalam kehidupan, saling mendalami makna. Tentunya ada yang mengasah dan ada yang diasah. Siapa pengasahnya? Siapa yang diasah? Kampung paling tua (indung) adalah Cikeusik, yang berperan sebagai pemegang atau pewaris norma-norma adat dari karuhun. Cikeusik adalah pemilik mandat kekuasaan. Tetapi pemilik ini tidak menjalankan mandatnya, dan menyerahkan peran memerintah berdasarkan norma-norma sakral itu kepada Cikertawana (si bungsu), dan anak sulungnya, Cibeo, berperan menjaga indung dan si bungsu. Jadi, Cikeusik yang berperan mengasah, Cikertawana yang berperan mengasihi, yakni berbuat, memberi, membina, menyatukan. Dalam ungkapan di atas disebut silih asih. Sedang Cibeo yang berperan mengasuh, melindungi, menjaga. Dalam ungkapan di atas disebut silih asuh.

(more…)

AAKM Februari 21, 2008

Posted by prabu in Budaya.
Tags: , , , ,
add a comment

All About Kekuasaan dan Moralitas.

Moralitas. Itulah kayaknya masalah bangsa Indonesia saat ini. Kita tidak perlu malu untuk mengungkapkan data dan fakta bahwa kita benar-benar terpuruk disini. Nggak perlu protes bila Dunia mengatakan bahwa di jagad ini, bangsa kita dicap sebagai salah satu negara paling korup. Dan legitimasi ini sudah berlangsung cukup lama. Dan kita lihat bersama, dari tahun ke tahun ”prestasi” ini tetap kita pertahankan.

Kita semua pasti akan membernarkan penilaian dunia itu. Hampir di segala bidang kehidupan, selalu saja ada yang disebut uang pelicin, sogokan, tarif tidak resmi, dana siluman, pungutan liar dan istilah-istilah lain yang terkait dengan transaksi keuangan diluar formal.

Kalau mau cepat bikin KTP maka harus bayar lebih karena bila mengikuti prosedur maka KTP yang diharapkan akan tercetak dalam waktu yang lama. Kalau mau bikin SIM atau perpanjangan SIM, maka harus melalui calo (baik petugas maupun orang yang direstui petugas) agar prosesnya lebih cepat dan tidak bertele-tele. Kalau mau dapat proyek, kita harus menjamu pejabat pemberi proyek dan kemudian secara malu-malu memberi sangu (hadiah) sebagai ”tanda cinta”. Jamu dan sangu itu kata kunci untuk berhasil.

Dana dari Pusat satu M, nyampe propinsi tinggal setengahnya, nyampe kota atau kabupaten tinggal setengahnya lagi, nyampe kecamatan tinggal setengah lagi, nyampe kelurahan tinggal setengah lagi. Dan akhirnya nyampe ke rakyat tinggal ampasnya.

Di Jalan. Motor berlomba dengan mobil. Saling nggak mau ngalah hingga akhirnya justru timbul kemacetan di sana sini. Tapi begitu polisi datang dan mengaturnya, maka yang dulunya galak jadi senyam-senyum, yang dulunya grusa-grusu jadi anak manis mudah diatur. Kuncinya Disiplin dan toleransi yang memudar. Satu lagi, mental kuli ! Tunduk dan patuh bila ada majikannya. Berperilaku lalu lintas yang baik bila ada petugas yang memperhatikan dan berdiri di pinggir jalan. Tapi bagaimana bila petugasnya yang nggak bener ? He he he …. jadi tambah kacau deh …

(more…)

Piala Asia Juli 26, 2007

Posted by prabu in Budaya.
add a comment

Keterpurukan bangsa dan prestasi olah raga tidak berbanding lurus. Artinya negara yang sedang dilanda bencana, perang yang melibatkan seluruh komponen bangsa, tidak terus meredupkan prestasi dalam hal olah raga. Hal ini ditunjukan oleh Iraq pada Piala Asia. Sebagai negara yang sedang menuju perang saudara yang diarsiteki oleh Amerika, pasukan sepakbola Iraq maju ke final Piala Asia 2007. Katanya untuk berlatihpun mereka terpaksa harus mengungsi ke negara lain. Namun prestasilah yang diraih, meraka maju ke putaran final untuk pertama kalinya dalam sejarah melawan Arab Saudi. Dan musuh yang dikalahkannyapun tidak sembarangan yaitu Korea Selatan, langganan Piala Dunia dan sempat menjadi semifinalis.

Perjuangan mereka luar biasa. Mungkin penambah motivasi bagi mereka adalah mereka ingin menunjukan ke dunia bahwa meskipun negara dalam kondisi porak poranda akibat perang namun prestasi tidak harus terjerambet pula. Meskipun perayaan kemenangan dinodai dengan tewasnya puluhan fans di Baghdad akibat bom mobil, tidak mengurangi arti sebuah kemenangan dan perjuangan.

(more…)

f(x) = f(t) + f(0) Juni 12, 2007

Posted by prabu in Budaya.
add a comment

f(x) = f(t) + f(0)

Persamaan di atas bukan merupakan sebuah rumus matematika maupun sebuah fungsi dalam statistik. Persamaan tersebut dibaca sebagai : Keberpihakan adalah merupakan sebuah fungsi waktu ditambah dengan keberpihakan awal. Nilainya relatif dan tergantung dari penggguna persamaan. Yang konstan adalah f(0), sedangkan f(t) nilainya berubah seiring berjalannya sang waktu.

Hitam, putih atau abu-abu suatu peristiwa dalam kehidupan yang dialami seseorang, akan merubah nilai keberpihakan. Cenderung pada sesuatu dan kemudian menggemarinya adalah rellatif karena pada saat yang lain seiring dengan perubahan yang terjadi, bisa jadi nilainya menjadi negatif dan akhirnya justru malah menjauhi dan membencinya.

(more…)